Suguhan Seni Budaya Sunda Di Kasepuhan Sinar Resmi - Cerita sebelumnya di Acara Sambutan.
Langit mulai gelap saat aku dan beberapa peserta memasuki imah gede untuk memenuhi panggilan makan malam. Di meja prasmanan, aku melihat ada 3 boboko (tempat nasi dari anyaman bambu) berisi 3 jenis nasi. Amazing! Ada nasi putih, nasi merah dan ada juga nasi hitam yang keungu-unguan. Untuk temen nasi-nya, gak main-main, ada sop kambing, sate kambing, sate ayam, acar, sayur asem, ikan bakar, ikan teri garing, sambel dan lalabannya ada daun pohpohan juga daun reundeu, dan ada juga setoples besar kerupuk di ujung meja.
[caption id="" align="aligncenter" width="300"]
Foto Milik Mas Ahyar[/caption]Huaaaa, rasanya pengen banget nyicip semua makanannya, tapi karena terlalu sulit untuk mengabaikan sambel yang sangat sangat menggoda, akhirnya aku cuma ambil ikan teri garing, sambel, daun pohpohan, 2 tusuk sate, dan juga kerupuk tak lupa aku angkut ke dalam piring. Sungguh, jamuan yang luar biasa dari Abah sama Ambu. Bener ya ternyata, makanan yang dimasak pake hawu (tungku kayu bakar) kadar enaknya jadi 2 kali lipat, berasa nikmat banget makan di sana tuh.
[caption id="" align="aligncenter" width="400"]
Dogdog Lojor[/caption]Bukan cuma jamuan makan malam yang istimewa, di sini kami juga dijamu dengan hiburan pertunjukan Dogdog Lojor, yang merupakan kesenian khas dari kesatuan adat Banten Kidul.
Dulunya, Dogdog Lojor cuma setahun sekali bisa dipertunjukkan, yaitu pas acara seren taun (semacam syukuran atas keberhasilan panen yang didapat). Tapi sekarang, kesenian Dogdog Lojor bisa juga diadakan saat acara khitan, pernikahan atau acara kemeriahan lainnya.
Alat musiknya sendiri, berupa dogdog lojor (gendang, berbentuk tabung panjang, yang kalau dipukul mengeluarkan bunyi 'dog-dog') dan Angklung buhun (semacam angklung cuma lebih besar, dan ini merupakan alat musik tradisional khas Kabupaten Lebak, Banten)
Para pemain yang terdiri dari 2 orang pemain dogdog dan 4 orang pemain angklung, bernyanyi diiringi kedua alat musik itu. Sejujurnya, suara penyanyi dan iringan musiknya sukses banget bikin aku (dan sepertinya yang lain juga) mengantuk, hehe. Usai mendayu-dayu dengan tiga lagu yang *nggg punya makna tersendiri dari masing-masing lagunya, penampilan ditutup dengan permainan ngadu dogdog.
Jadi tuh pemain yang megang dogdog, harus bisa mukul dogdog lawan. Dan itu bikin suasana jadi gak sengantuk sebelumnya, soalnya kita berasa dihibur, kan kocak liat orang perebutan usaha banget cuma buat mukul dogdog lawan.
[caption id="" align="aligncenter" width="400"]
Persiapan Jaipongan[/caption]
Usai pertarungan sengit mamang-mamang pemain dogdog lojor, acara masih berlanjut ke Jaipongan. Satu dua tarian lincah dari penari jaipong bikin suasana ramee lagi, bahkan beberapa orang ada yang naik panggung buat kasih saweran. Selain itu, panitia juga bikinin jagung bakar, mungkin maksudnya biar makin betah ya nonton jaipongannya sampai selesai.

Jam 10 malam acara benar-benar usai, ditutup dengan lagu pileuleuyan (semacam lagu perpisahan gitu).
Mugi tiasa patepang deui (semoga bisa bertemu lagi)
Ikut acara ini, kayanya aku wajib malu, soalnya sebagai orang yang lahir di tanah Sunda, bahkan darah Sunda mengalir di tubuhku, aku gak tau banyak tentang adat budaya Sunda. Jangankan adat budaya, ngomong bahasa Sunda (utamanya sunda halus) aja masih belepotan -_- keturunan macam apalah aku ini, hiks.
Beruntung banget bisa menginjakkan kaki di Kasepuhan Sinar Resmi berkat Dompet Dhuafa, aku jadi tau lebih banyak tentang adat budaya Sunda. Ada kebahagiaan tersendiri yang menyelinap ke dalam hatiku, saat tau kalau ternyata masih ada orang-orang yang memegang teguh adat dan kebudayaan suku bangsanya, ditengah-tengah banyaknya orang yang meninggalkan itu semua :')
Halo teman-teman, belum bosen kan bacain cerita aku? Semoga belum yaaaa,
soalnya cerita aku belum selesai, masih ada 1 lagi.. Tungguin yaaaa *berasa sok iya banget ada yang nungguin*
Salah dua sudut keindahan yang aku temui di Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Cisolok Sukabumi


Bersambung...
Sambungannya bisa dibaca di postingan berikut: Care Visit Agriculture
No comments