Showing posts with label Sukabumi. Show all posts

Care Visit Agriculture : Bersinergi Dengan Alam

Care Visit Agriculture : Bersinergi Dengan Alam - Cerita sebelumnya Suguhan Seni Budaya Di Kasepuhan Sinar Resmi. Gak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau hari Minggu ketiga di bulan Desember ini aku akan terbangun di sebuah desa yang berjarak ratusan kilometer dari rumahku. Bahkan hari itu, aku berkesempatan menapaki setapak demi setapak jalanan yang mulai dilapisi campuran semen dan pasir itu




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Care Visit Agriculture Langitnya cerah banget kan[/caption]

Bekas hujan kemarin, bikin jalanan jadi berasa licin, ditambah bekas luka waktu jatoh di dufan tempo hari juga bikin aku terlalu berhati-hati dalam melangkah. Saking takut kepeleset, aku sampe bukan sandal waktu itu, istilah kerennya sih nyeker brooh..! Tapi keindahan alam Desa Sirnaresmi, susah buat ditolak. Mau sesusah apa jalanan yang ditempuh, kalau pemandangannya bikin super takjub sih, yaa pasti semangat yaa kan.


sekretariat bank binih di kasepuhan sinar resmi


Jadi ceritanya, seabis sarapan nasi uduk di imah gede, para peserta lengkap dengan panitia di'giring' menuju sawah hasil kerjasama antara Kasepuhan Sinar Resmi dengan Dompet Dhuafa dan Pertanian Sehat, yang dipandu sama Kang Purnama. Tujuannya sih, biar kita bisa ngerasain indahnya pagi-pagi pergi ke sawah, seperti yang warga desa biasa lakukan.




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Care Visit Agriculture Sejak kapan orang mau ke sawah pake welfie dulu? hihi[/caption]

Kurang lebih satu jam, kami baru sampai di tempat tujuan dan langsung foto-foto *gak di mana-mana, foto sih nomer satu ya* 


Setelahnya, Kang Purnama juga kasih penjelasan singkat tentang beberapa jenis padi dan keunggulan dari padi yang ditanam di sawah itu. Dan karena panen dilakukan satu tahun sekali jadi sawah ini tahan hama dan tahan terhadap perubahan alam. Biasanya juga, setelah panen, sawah-sawah ini digunakan untuk budidaya ikan selama kurang lebih dua bulan. Sisanya, warga juga menanam beberapa jenis sayuran di tempat lain.


Dan hasil-hasil bumi tersebut gak dijual belikan lho, justru digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, jadi sistem saling berbagi antar warga masih sangat terasa di desa ini. Patut dicontoh!


jenis padi di kasepuhan sinar resmi


jenis padi di kasepuhan sinar resmi


hands on pare


Setelahnya, kami kembali ke rumah Abah sama Ambu. Nafas mulai gak teratur, pipi mulai merah, sementara yang lain selonjorang di depan imah gede, aku memilih ‘ngadem’ di rumah penginapan. Begini ini kalau jarang keringetan pagi-pagi, tapi sih sebenernya berasa banget badan lebih ringan bawaannya.




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]di kasepuhan sinar resmi leuit lumbung padi Leuit si Jimat[/caption]

Gak kurang dari setengah jam, kami masih meneruskan acara yang masih bersisa, yaitu melihat proses menumbuk padi. Yaa, kalau kata Abah sih, ini biar para peserta tau aja, menumbuk padi itu bukan perkara mudah. Jadi, Abah berharap biar kita bisa lebih menghargai nasi, karena butuh proses yang gak sebentar buat bikin benih jadi padi dan padi bisa jadi nasi. Hayoo, siapa yang masih suka buang-buang nasi? Kalau aku sih, alhamdulillah tiap makan diusahain piring selalu bersih dari nasi seremeh pun.




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Care Visit Agriculture Proses menumbuk padi[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="400"]oleh warga desa kasepuhan sinar resmi Ditumbuk-dipindahin ke boboko-di tapi (gambar ke 3)[/caption]

Sesi belajar belum usai, tapi aku pergi lebih dulu. Suhu tubuh udah lumayan normal, jadi aku mau mandi sebelum perjalanan pulang nanti! Rasanya gak akan nyaman kalau pulang dalam keadaan gak mandi (lagi). Beres mandi, ternyata langsung diajak makan siang! Yaampuun, kayanya di sini makan mulu yah kerjanya, pantesan Ambu bilang kalau di sini gak berlaku diet-dietan, hhi.


Menunya siang itu, ada hidangan sayur batang pohon aren yang masih muda, katanya sih itu enak tapi aku gak cobain sayurnya. Aku makan olahan semur bebeknya, sate, sama sambel dan kerupuk. Perut kenyang hati senang tapi tugas masih gentayang!


Aku masih harus balik ke rumah penginapan, buat beresin barang-barang buat siap-siap pulang. Dan hujanpun turun, semacam kode biar kita lebih lama di sini :p Sekitar jam setengah 2 hujan sedikit reda, kitapun berkumpul lagi di rumah Abah buat pamitan, hiks


Ada Abah sama Ambu yang kasih beberapa wejangan, ada Bu Dona dan Direktur Pertanian Sehat yang memberikan sepatah dua patah kata, juga ada perwakilan dari blogger yaitu Mak Tanti yang kasih masukan superrr keren buat Kasepuhan ini. Sisanya, pemberian souvenir ke Abah sama Ambu, dan perwakilan blogger yang diwakilin Mak Fadlun. Setelahnya, semua peserta berdiri dan bersalaman sama Abah Ambu dan beberapa panitia.


Sebelum masuk ke mobil, kita foto bersama di depan imah gede, duh rasanya pengen banget nyanyi pileuleuyan, tapi malu! Haha




[caption id="" align="aligncenter" width="282"]dompet dhuafa blogger kasepuhan sinar resmi Pemberian souvenir[/caption]

[caption id="" align="aligncenter" width="400"]boneka abah ambu beras hitam aren Para peserta juga kebagian lho[/caption]

Hujan masih mengiringi perjalanan kami saat meninggalkan Kasepuhan Sinar Resmi. Seneng deh, pas dateng ke sini hujan, pas pulang juga ditemenin hujan juga, gimana gak makin jatuh cinta sama hujan coba?
Perjalanan Cisolok-Ciawi lancar, Ciawi sampai Ciapus juga lancar, Alhamdulillah...


***


Dua hari yang sangat sangat berharga, dapet ilmu baru, pengetahuan baru, teman dan bahkan saudara baru. Selain itu, ini juga pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Desa Sirnaresmi Cisolok, semoga bukan yang terakhir, aamiin.


Dan yang lebih spesial adalah, karena trip kali ini adalah trip pertama aku sebagai blogger, bukan rider. Emang sih, beberapa event blogger udah pernah aku ikutin, tapi yang jaraknya lumayan jauh dan pake acara nginep ya baru ini, mungkin itu juga alasannya kenapa cerita satu malam dua hari ini bisa jadi 4 postingan di blog ini, karena buat aku setiap perjalanan itu berharga.


Makasih banyak ya Dompet Dhuafa untuk acara yang penuh ilmu dan sarat manfaat ini ! Semoga program-program Dompet Dhuafa terus berkembang demi kemashlahatan umat, aamiin..


Ohiya, makasih juga buat Mak Fadlun yang udah ajak ke acara keren ini, makasih buat Ka Desi dan Ka Yuri buat jalan-jalan sore dan jepretannya (tolong dimaklumi kelakuan model wannabe yang gak kesampaian ini :p) dan tentunya makasih banyaaak buat teman-teman yang udah maumaunya baca cerita panjaaaang aku ini, kalian luar biasaaa! *tebar senyum manis buat semua yang baca, sampai ketemu yaa di cerita-cerita aku berikutnyaaa - Raninovariany

Suguhan Seni Budaya Sunda Di Kasepuhan Sinar Resmi

Suguhan Seni Budaya Sunda Di Kasepuhan Sinar Resmi - Cerita sebelumnya di Acara Sambutan.


Langit mulai gelap saat aku dan beberapa peserta memasuki imah gede untuk memenuhi panggilan makan malam. Di meja prasmanan, aku melihat ada 3 boboko (tempat nasi dari anyaman bambu) berisi 3 jenis nasi. Amazing! Ada nasi putih, nasi merah dan ada juga nasi hitam yang keungu-unguan. Untuk temen nasi-nya, gak main-main, ada sop kambing, sate kambing, sate ayam, acar, sayur asem, ikan bakar, ikan teri garing, sambel dan lalabannya ada daun pohpohan juga daun reundeu, dan ada juga setoples besar kerupuk di ujung meja.




[caption id="" align="aligncenter" width="300"]Suguhan Seni Budaya Sunda Di Kasepuhan Sinar Resmi Foto Milik Mas Ahyar[/caption]

Huaaaa, rasanya pengen banget nyicip semua makanannya, tapi karena terlalu sulit untuk mengabaikan sambel yang sangat sangat menggoda, akhirnya aku cuma ambil ikan teri garing, sambel, daun pohpohan, 2 tusuk sate, dan juga kerupuk tak lupa aku angkut ke dalam piring. Sungguh, jamuan yang luar biasa dari Abah sama Ambu. Bener ya ternyata, makanan yang dimasak pake hawu (tungku kayu bakar) kadar enaknya jadi 2 kali lipat, berasa nikmat banget makan di sana tuh.




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]seni budaya sunda Dogdog Lojor[/caption]

Bukan cuma jamuan makan malam yang istimewa, di sini kami juga dijamu dengan hiburan pertunjukan Dogdog Lojor, yang merupakan kesenian khas dari kesatuan adat Banten Kidul.


Dulunya, Dogdog Lojor cuma setahun sekali bisa dipertunjukkan, yaitu pas acara seren taun (semacam syukuran atas keberhasilan panen yang didapat). Tapi sekarang, kesenian Dogdog Lojor bisa juga diadakan saat acara khitan, pernikahan atau acara kemeriahan lainnya.


Alat musiknya sendiri, berupa dogdog lojor (gendang, berbentuk tabung panjang, yang kalau dipukul mengeluarkan bunyi 'dog-dog') dan Angklung buhun (semacam angklung cuma lebih besar, dan ini merupakan alat musik tradisional khas Kabupaten Lebak, Banten)


Para pemain yang terdiri dari 2 orang pemain dogdog dan 4 orang pemain angklung, bernyanyi diiringi kedua alat musik itu. Sejujurnya, suara penyanyi dan iringan musiknya sukses banget bikin aku (dan sepertinya yang lain juga) mengantuk, hehe. Usai mendayu-dayu dengan tiga lagu yang *nggg punya makna tersendiri dari masing-masing lagunya, penampilan ditutup dengan permainan ngadu dogdog.


Jadi tuh pemain yang megang dogdog, harus bisa mukul dogdog lawan. Dan itu bikin suasana jadi gak sengantuk sebelumnya, soalnya kita berasa dihibur, kan kocak liat orang perebutan usaha banget cuma buat mukul dogdog lawan.




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]kasepuhan sinar resmi Persiapan Jaipongan[/caption]

jaipongan di kasepuhan sinar resmi


Usai pertarungan sengit mamang-mamang pemain dogdog lojor, acara masih berlanjut ke Jaipongan. Satu dua tarian lincah dari penari jaipong bikin suasana ramee lagi, bahkan beberapa orang ada yang naik panggung buat kasih saweran. Selain itu, panitia juga bikinin jagung bakar, mungkin maksudnya biar makin betah ya nonton jaipongannya sampai selesai.


temen ngemil nonton pertunjukkan


Jam 10 malam acara benar-benar usai, ditutup dengan lagu pileuleuyan (semacam lagu perpisahan gitu).
Mugi tiasa patepang deui (semoga bisa bertemu lagi)


Ikut acara ini, kayanya aku wajib malu, soalnya sebagai orang yang lahir di tanah Sunda, bahkan darah Sunda mengalir di tubuhku, aku gak tau banyak tentang adat budaya Sunda. Jangankan adat budaya, ngomong bahasa Sunda (utamanya sunda halus) aja masih belepotan -_- keturunan macam apalah aku ini, hiks.


Beruntung banget bisa menginjakkan kaki di Kasepuhan Sinar Resmi berkat Dompet Dhuafa, aku jadi tau lebih banyak tentang adat budaya Sunda. Ada kebahagiaan tersendiri yang menyelinap ke dalam hatiku, saat tau kalau ternyata masih ada orang-orang yang memegang teguh adat dan kebudayaan suku bangsanya, ditengah-tengah banyaknya orang yang meninggalkan itu semua :')


Halo teman-teman, belum bosen kan bacain cerita aku? Semoga belum yaaaa,
soalnya cerita aku belum selesai, masih ada 1 lagi.. Tungguin yaaaa *berasa sok iya banget ada yang nungguin*


Salah dua sudut keindahan yang aku temui di Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Cisolok Sukabumi


kasepuhan adat sinar resmi desa sirnaresmi cisolok


hijau biru berpadu


Bersambung...



Sambungannya bisa dibaca di postingan berikut: Care Visit Agriculture

Care Visit Bareng Dompet Dhuafa : Acara Sambutan

Care Visit Bareng Dompet Dhuafa Acara Sambutan - Cerita sebelumnya bisa dibaca di postingan Tentang Perjalanan. Masih ditemani gerimis yang membuat suasana semakin syahdu*aaiiih saat rombongan turun dari mobil, kami disambit *ehh disambut sama pertunjukkan yang namanya ngagondang. Pertunjukannya berupa, beberapa Ibu memukul-mukul lisung dengan alu (alat menumbuk padi), yang dipukul secara bergantian tapi dalam tempo cepat jadi tetap berirama gitu deh.




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Tradisi ngagondang budaya banten kidul Ngagondang[/caption]

Usai acara sambutan, ada Abah sama Ambu yang juga ikut menyambut kami di pintu rumahnya. Rumah panggung, dengan lantai kayu, dinding bilik tanpa kapur, dan masih beratap injuk. Meski begitu, kayu-kayu penyangga rumah nampak kokoh, memberi kesan bangunan yang megah. Diatasnya tertulis Imah Gede (rumah besar) lengkap dengan tulisan aksara sunda.


Ibu ibu pemain ngagondang




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Care Visit Bareng Dompet Dhuafa Acara Sambutan Simbolis pemakaian ikat kepala[/caption]

Sebelum dipersilakan masuk, Abah memakaikan iket (ikat) sunda kepada salah satu peserta. Semacam kain yang diikat untuk melindungi kepala, tapi ikatan ini ada filosofinya tersendiri. Kami pun diajak masuk ke dalam rumah dan banyak sekali foto-foto yang terpajang di bilik, beberapa diantaranya orang-orang yang pernah datang ke Kasepuhan ini, sebentar lagi foto kami menyusul :p


Belum lagi, gelaran karpet lengkap deretan toples dan piring berisi aneka macam cemilan. Ada wajit, kembang goyang, ranginang, pangsit, kue ali, donat sampe keripik pisang, ada lengkap semua. Pokoknya, perjalanan melelahkan tadi terbayar lunas deh pas liat ranginang (rengginang).


Kasepuhan sinar resmi desa sirna resmi




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Cemilan khas daerah sukabumi Susuguh[/caption]

Kepala adat kaespuhan sinar resmi cisolok sukabumi


Sambil menyantap cemilan, acara dibuka dengan santai oleh pemandu acara, dilanjut sambutan dari penanggung jawab acara yaitu Ibu Dona, dan juga ada sambutan dari Abah dan Ambu. Beberapa hal yang disampaikan Abah adalah tentang kehidupan di Kasepuhan beliau.


Yang mana, ada 73 kepala keluarga yang masih memegang teguh adat istiadat, tradisi dan budaya Sunda. Semacam, gak boleh bangun rumah dan gak boleh menikah di bulan tertentu. Dalam beberapa kesempatan, Abah menekankan bahwa kita itu harus bisa hidup berdampingan dengan alam, sehingga alam dan manusia akan bersinergi dengan seimbang. Abah juga bilang kalau di sana panen padi dilakukan hanya setahun sekali *sementara sodara aku yang di Cibadak 3 bulan sekali udah panen.


Aku paling suka pas Abah mengibaratkan ini, langit ibarat Bapak, dan bumi ibarat Ibu. Jadi, gak mungkin kan dalam setahun seorang Ibu melahirkan dua kali? Terlebih, ada unsur melatih kesabaran dalam hal menanam dan merawat padi, saat memanen, sampai itu padi bisa jadi sepiring nasi. Itu seolah menunjukan kesabaran itu selalu berbuah manis.


Yang mencengangkan, ada fakta bahwa di daerah Abah itu terdapat banyak sekali jenis padi yang ditemukan. Jumlahnya mencapai ratusan, dan sekarang ada 60an yang masih bertahan. Abah gak mau kalau sampai varietas padi itu sampai jatuh ke orang asing atau parahnya lagi diklaim hak miliknya oleh mereka.


Makanya, Abah setuju dengan programnya Dompet Dhuafa, yang mengusung program Bank Benih, juga program Pertanian Sehat. Dompet Dhuafa juga memberi bantuan untuk pengadaan lahan dan beberapa kebutuhan pendukung lainnya. Abah dan Ambu, juga warga sangat mengapresiasi program-program Dompet Dhuafa, dan merasakan langsung manfaatnya.


Ada lagi yang menarik, jadi meskipun gak semua warga memiliki sawah, tapi setiap rumah warga wajib memiliki leuit atau lumbung padi. Dan ada satu lumbung milik bersama, yang namanya leuit si jimat, kegunaannya bila satu waktu ada warga yang ingin meminjam padi, bisa datang ke Abah dan mengambil sendiri padi (disebut Pare dalam bahasa sunda) yang ingin dipinjam dan mengembalikan sesuai dengan yang dipinjam.


Ya, semacam koperasi gitu ya kerennya. Leuit si jimat ini diisinya sama pendapatan panen warga, dengan perhitungan, kalau warga panen 50 iket (disebut pocong), maka 1 iketnya harus disimpan di leuit si jimat itu. Yang gak kalah menarik, rumah-rumah di sini gak ada yang di kunci. Pun begitu sama leuit-leuit-nya gak pernah di kunci. Sistem kepercayaan benar-benar diterapkan di sini.


Kasepuhan Sinar Resmi Cisolok Sukabumi


Selesai bincang singkat tapi penuh makna sama Abah dan Ambu, para peserta pun dipersilakan untuk istirahat di rumah warga sampai menjelang ba'da isya nanti, karena akan ada pertunjukan daerah lagi malamnya. Rumah yang aku tempati ada sekitar 5 kamar, dengan kapasitas 3 orang/kamar. Yang bikin amazing, ranjang kayunya ampeg (kokoh) banget, gak ada ceritanya takut rubuh deh!


Sementara yang lain istirahat, Aku ngajak Ka Desi sama Ka Yuri buat jalan-jalan, gerimis sesekali masih turun. Jadi, aku foto-foto dulu di depan imah gede. Pas gerimis udah mulai reda, kita jalan-jalan sambil (pastinya) foto-foto lagi. Sampai menjelang maghrib, kita baru deh balik ke tempat istirahat, mandi dan bersiap sholat maghrib. Ba'da maghrib ada panggilan buat makan malam! Asiiik, ini kan yang ditungguin??


care visit agriculture


Hmm, Kira-kira apa ya menu makan malam kalau di pedesaan gini? Apa semacam menu makan seadanya gitu? Tunggu di tulisan selanjutnya yaaa *bersambung...



Sambungannya bisa  dibaca di postingan berikut: Suguhan Seni Budaya Di Kasepuhan Sinar Resmi

Care Visit Bareng Dompet Dhuafa Travel : Tentang Perjalanan

Care Visit Bareng Dompet Dhuafa Travel : Tentang Perjalanan - Siang itu, tetiba aja aku dapat whatsapp dari Mak Fadlun, seperti biasa, isinya pasti mengajak aku ke suatu event blogger, hehe. Tapi ada yang beda dari ajakan kali ini, karena ada acara nginep-nginepnya.


Huaaa.. Rada susahkan perizinannya kalau nginep! Tapi beruntungnya, Mak Fadlun udah pernah main ke rumah sama beberapa blogger lain, jadi izinnya gak sesusah perjalanan waktu ke Ujung Genteng tahun lalu kaya yang aku ceritain di postingan Curhat Iseng. Alhamdulillah, aku dapat izin, horaay!!


Care Visit Bareng Dompet Dhuafa


Sabtu(20/12) pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Dari semalam aku udah pasang alarm hp sampai beberapa kali.  Jelas pesan yang aku terima melalui SMS itu berpesan pukul 06.30 aku harus sudah sampai di tikum (titik kumpul) Ciawi. Karena gak tau mau titip Mobi di mana, akhirnya aku pergi tanpa Mobi pagi itu *berasa ada yang ketinggalan deh.


Jam nyaris menyentuh angka 06.30 saat aku sampai di perempatan Ciawi setelah sekitar 3 kali harus berganti angkot *lapkeringet. Dan di sana, udah ada Mak Fadlun dan keluarga yang datang lebih dulu. Ada Farissa dan Faqih yang waktu itu masih malu-malu untuk aku ajak kenalan, iya meski sering ketemu Ibunya, ini kali pertama aku ketemu sama mereka berdua.


Gak lama, datang Ka Desi, Ka Yuri sama Mak Dwina melengkapi kontingen Jawa Barat *pinjem istilah Mak Mutiah. Dan selang beberapa waktu, mobil jenis elf berwarna abu, yang akan membawa kami membelah jalan, sampai juga di bibir pintu tol Ciawi.




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Care Visit Bareng Dompet Dhuafa Aku - Ka Desi - Mak Dwina[/caption]

Aku langsung mengambil tempat duduk dekat jendela, mobil elf yang aku naiki merupakan salah satu mobil dari Dompet Dhuafa Travel. Ohiya, aku belum cerita yah. Jadi, trip aku kali ini dalam rangka mengikuti salah satu program tahunan dari Dompet Dhuafa yang bernama care visit atau kunjungan kepedulian.


Tujuannya sendiri agar para donatur yang ikut serta dalam acara ini, bisa mengenal dan melihat secara langsung kegiatan DD dalam program pemberdayaan. Kali ini, DD juga mengajak serta para blogger dalam kegiatan ini, dan aku bersyukur banget bisa jadi salah satunya. Kunjungan kepedulian tahun ini, DD mengajak kami mengunjungi Kasepuhan Adat Sinar Resmi yang ada di Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kab. Sukabumi dengan mengangkat tema pertanian.


Karena akhir pekan, jalanan lumayan padat, beberapa kali kami dihadang macet. Untungnya, mobil elf yang kami naiki itu nyaman banget, area kaki lumayan luas, udah dipake simpen tas ransel dan bawaan lain pun kaki tetep bisa selonjoran, AC-nya nyala terus, gak ada lah ceritanya kepanasan di mobil sekalipun kena macet. Cuma supirnya aja agak ‘hororr’ bawanya, karena nyaris beberapa kali ngerem mendadak -__-




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Care Visit Bareng Dompet Dhuafa RM Cipta Rasa[/caption]

Masuk waktu dzuhur, kami sampai di kawasan Pelabuhan Ratu, suasana waktu itu cenderung berawan. Rombongan menepi di sebuah warung makan bernama Cipta Rasa, dan saat turun, sudah ada beberapa orang dengan kaos bertuliskan Dompet Dhuafa (crew), tak lupa, beberapa hidangan makan siang sudah melambai-lambai manja minta di pindah posisikan ke piring-piring. Sementara, untuk mengurangi efek pegal duduk berjam-jam di mobil kita foto-foto dulu *lho heh? Ngaruh gitu ya?


Setelah dipersilakan untuk makan, aku pun dengan sigap mengambil piring, bukan apa-apa kesian aja sih itu hidangan udah melambai sampe lemes belum ada yang menyentuh juga, hihi. Aku mengambil nasi dengan ikan bakar sebagai lauknya, tentu sambel sama lalaban gak boleh ketinggal, sama satu lagi kerupuk ikan, nyamnyamnyam. Asli, sambelnya enak binggoo!




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Care Visit Bareng Dompet Dhuafa Mariii Makaaan!![/caption]

Rumah makan ini posisinya membelakangi laut, dan waktu aku jalan cari mushola, diujung sana ombak lagi asik kejar-kejaran *tapi bukan ngejar aku kok, santaii. Niatnya sih, dari mushola mau mampir sebentar yaa sekedar buat foto-foto, ternyata hujan datang duluan, yaudah dari mushola aku langsung melipir lagi ke rumah makan. Pura-pura cuek gitu sama laut padahal dalem hati pengen banget nyebur dan main ombak kaya Farissa sama Faqih, hiiks.


Sekitar jam setengah 2, kami meneruskan perjalanan. Panitia memberi petunjuk bahwa jalan yang akan dilalui agak curam, apalagi kali ini hujan turut serta menemani *tsaah jadi kami semua berdoa bersama menurut keyakinan masing-masing. Tapi entah kenapa di beberapa jalanan yang menurun, kami malah serasa lagi naik salah satu wahana dufan, ceritanya belum bisa move-on dari dufan tempo hari.


Pemandangan sebelum memasuki kawasan kasepuhan sinar resmi


Kasepuhan sinar resmi cisolok sukabumi


Memasuki kawasan pegunungan, dan semakin mendekati tempat tujuan, kita dibuat terpesona sama keindahan alam yang terlihat jelas dari kaca mobil. Subhanallah, indaaah banget! Rumah-rumah penduduk yang masih khas, dengan sekat-sekat pagar alamnya, serasa liat lukisan versi nyata! Alhamdulillah, kita sampai juga di Kasepuhan Sinar Resmi...




[caption id="" align="aligncenter" width="400"]Care Visit Bareng Dompet Dhuafa Wilujeung Sumping di Kasepuhan Sinar Resmi[/caption]

Gimana keseruan aku selama di sana? Tunggu di tulisan berikutnya yaaa... *bersambung


Sambungan cerita => Acara Sambutan

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

[caption id="" align="aligncenter" width="320"]Perjalanan Bogor-Ujung Genteng Ujung Genteng[/caption]

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng - "Never know if never try"


Suka banget sama pepatah ini, karena emang bener adanya, kita gak pernah tahu kalau kita gak pernah berani nyoba..


Mungkin kalau Jum'at sore itu aku gak berani buka mulut, aku gak akan bisa ngerasain indahnya pantai Ujung Genteng. Meski berangkat minim persiapan, baik motor maupun orangnya, alhamdulillah semuanya berjalan lancar :)


Sabtu, 28 Desember 2013, 02:00 dini hari, sebelas om-om XRAD berhasil menemukan rumahku yang terpencil ini. Aku udah siap pake jaket+rompi, tapi karena dirasa kurang, aku nambah jaket lagi deh, hihi.
Tepat jam 3 subuh, kita mulai starter motor, aku ambil arah Cihedeung dari Bogor, keluar Cigombong. Sampai di Cibadak kira-kira jam setengah 5'an, kita istirahat dulu tuh.


Jam 6'an kita istirahat lagi di pom bensin daerah Sukabumi (masih cari-cari jalur masuk ceritanya, sempet muter-muter juga di Sukabumi kota, seruu, haha).


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Ngikutin GPS, dan akhirnya masuk juga jalur ke Ujung Genteng. Jalanannya beragam banget, ada yang bagus mulus, ada juga yang ancoor paraah (tangan ampe pegel) gak tau berapa kali aku ngehantem lubang jalanan --" Jalanannya berliku-liku, macem hurup S keriting, matahari juga udah mulai menantang tuh di gunung. Aaah, silaaaau banget >.<


Berhasil melewati jalanan berliku-liku itu, kita istirahat lagi, sarapan dulu makan bubur ayam, waktu itu kita udah di daerah Lengkong. Lumayan lama istirahatnya, gegara lewatin jalanan ancur tadi.


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

[caption id="" align="aligncenter" width="320"]Perjalanan Bogor-Ujung Genteng Pemandangan dibelakang warung[/caption]

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Jam 8'an kita jalan lagi, teruuuus aja ngikutin jalanan itu, masih serupa sih, tapi udah gak begitu rusak banget jalanannya. Sampai liat keterangan marka jalan kalau Ujung Genteng tinggal 20kiloan lagi, kita istirahat (lagi) di Indomart, sambil jajan-jajan.


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Dari sini, sepakat buat Gasspoll sampai tujuan, karena dirasa udah deket.


Ditengah jalan kita dihadang (ceileee, bahasanya) sama sekolompok manusia (?) yang nempel-nempel stiker murah doang disuruh bayar 5000/motor. huh!


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Dari sini masih gasspoll tuh, hawa-hawa pantai mulai berasa, panasnya mulai beda soalnya. Teruuus.. sampai deh di gerbang kemerdekaan*eh disini baru nih bayar masuk kawasan Ujung Genteng, 8000/motor.


Makin deket.. deket dan akhirnya keliatan jugaa itu pantai..


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng


Indaaah banget, tapi sayang pantainya kotor tuh --"


Seabis kumpul semua, kita baru deh cari penginapan. Atas dasar deket tahun baru, itu tempat penginapan gak bisa geser harga sedikitpun !Ampuun deh ahh.. Tapi yah kita ambil juga, satu rumah 3 kamar tidur, 2 kamar mandi dihargain 500rb (katanya sih kalo bukan musim liburan paling 250rb)


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng


Jam 12 siang, pas matahari lagi panas-panasnya, bener-bener gak niat buat langsung nyebur, cuma satu, pengen istirahat. Aku tidur di kamar, yang lain tidur di lantai, gelar tiker.


Jam 2'n aku udah bangun lagi, susah banget tidur siang, langsung pesen mie aja deh. Udahnya, nyanyi-nyanyi gak jelas deh tuh, hehe.


Jam 4 sore kita baru siap-siap ke pantai nih, udah bawa bola segala (mau pada futsal ceritanya mah). Kita ke pantai yang sekaligus tempat penangkaran penyu gitu, disini bayar lagi 10.000/orang.


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Pantainya jauh lebih bagus dari yang di depan penginapan. Akhirnyaa, nikmatin lagi asinnya air laut, diombang ambing ombak sampai tenggelem-tenggelem --" Tapi seruuu, serius seruuu bangeeet, udah lama gak maen-maen aer soalnya :p


Perjalanan Bogor-Ujung GentengUdah diacak-acak ombak, masih tetep senyum :)

Semakin sore, air laut makin pasang, kita juga diperingatin buat gak maen-maen lagi di air. Beberapa saat kemudian, kita juga sempet dikasih liat pelepasan tukik a.k.a anak penyu lho. Katanya sih sekitar 600 anak penyu dilepas di sana. Lucuu-lucu deh tuh anak penyu, rasanya pengen banget bawa pulang 1 aja..hhi


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Selain itu, puas juga nikmatin sunset yang pelan-pelan turun menyembunyikan aura senjanya. Aahh, sukaaa banget sama suasana kemaren tuh. Laut, pasir pantai, sunset, senja, awan :')


Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Perjalanan Bogor-Ujung Genteng

Karena udah mau malem, itu tempat juga udah mau tutup, jadi kita balik deh ke penginapan. Langsung mandi, bersih-bersih, udah itu langsung makan.


Pengennya sih, abis makan, ngantuk terus bisa langsung tidur. Nyatanya, biar udah minum obat tetep aja gak langsung ngantuk. Hmm, yaudah maen-maen dulu deh ke pantai depan penginapan sama om Tanto n om Boim.


Ternyata disuguhi pemandangan langit yang bener-bener bikin mata berbinar, ribuan bintang terhampar bebas di langit, berasaa dekeeet banget bintangnya.

Sampai jam 10'an, mulai ngantuk-ngantuk tuh, pulang deh kita ke penginapan.
Yang lain, ada yang udah tidur, ada yang masih nyanyi-nyanyi riang, aku milih masuk kamar aja deh, istirahat.



Cerita perjalanan pulangnya, bisa teman-teman baca di postingan berikut: Dari Ujung Genteng Sampai Bogor